Kabupaten
Sumbawa merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Barat yang
terletak di Pulau Sumbawa, dimana Kabupaten Sumbawa terdiri dari 20 kecamatan
pada tahun 2003. Hal ini berdasarkan adanya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003
tanggal 18 Desember 2003 tentang pemerkaran wilayah menjadi Kabupaten Sumbawa
dan Kabupaten Sumbawa Barat. Kemudian seiring dengan perkembangan dinamika
masyarakat di wilayah kecamatan Lape Lopok dan kecamatan Ropang dan sebagai
implementasi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Kecamatan
Lape Lopok dan Kecamatan Ropang, dimekarkan kembali yaitu Kecamatan Lopok dan
Kecamatan Lape, sedangkan Kecamatan Ropang dimekarkan kembali yaitu
Kecamatan Ropang, Kecamatan Lantung dan Kecamatan Lenangguar.
Sehingga keseluruhan kecamatan di Kabupaten Sumbawa sejak terbentuknya sampai
dengan sekarang berjumlah 24 (dua puluh empat ) kecamatan.[1]
Kabupaten
Sumbawa memiliki beragam seni dan budaya serta potensi alam yang berlimpah
seperti potensi disektor pertanian, perternakan, perikanan dan sektor
pariwisata. Berlimpahnya potensi yang ada membuat pemerintah Kabupaten Sumbawa
berupaya memaksimalkan potensi daerahnya, mengingat diplomasi budaya dalam
perkembangannya tidak hanya dilakukan Pemerintah pusat namun Pemerintah
daerah pun mampu dan berhak untuk melakukan suatu diplomasi yang mana dalam hal
memperkenalkan budaya nya agar kesenian, budaya serta lokasi pariwisata nya
mampu dikenal dan memberikan citra positif kepada daerah lain maupun dikancah
internasional.
Di indonesia sendiri upaya mengenalkan kearifan
lokal ini tidak hanya menjadi tugas Pemerintah Pusat melainkan juga menjadi
tugas Pemerintah Daerah seperti sebagaimana diatur didalam Peraturan
bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan Pariwisata mengenai Pedoman
Pelestarian Kebudayaan.[2] Hal ini membuat Pemerintah daerah Sumbawa ingin budaya ,
kesenian serta pariwisata nya mampu dikenal serta memberikan dampak positif
kepada daerah baik dalam peningkatan wisatawan ataupun peningkatan ekonomi
daerahnya, salah satu upaya Pemerintah
Daerah Sumbawa yaitu dengan mengadakan Festival Moyo dengan harapan dapat memberikan dan menyampaikan
citra positif kepada masyarakat luas baik lokal maupun internasional serta
dapat membantu meningkatkan pembangunan serta ekonomi masyarakat maupun daerah. Festival
Moyo yang ada di Sumbawa juga bisa dikategorikan sebagai kearifan lokal di
Sumbawa.
Pemerintah
Daerah Sumbawa sudah mulai memperkenalkan Festival Moyo ini mulai dari tahun
2012 hingga tahun 2015 sebagai upaya meningkatkan citra dari Festival Moyo
tersebut ke dunia internasional sebagaimana festival festival budaya
tradisional di daerah lainnya, sehingga melalui festival tersebut diharapkan
mampu mengkomunikasikan / memperkenalkan budaya suatu daerah kekancah lokal
maupun internasional, dan juga sebagai wujud melindungi, melestarikan dan pemeliharaan
budaya asli daerah sebagai simbol dari daerahnya masing-masing , menimbang pentingnya warisan budaya takbenda sebagai
sumber tenaga utama keanekaragaman budaya dan suatu jaminan pembangunan
berkelanjutan.
Festival Moyo juga merupakan simbol daripada Sumbawa itu sendiri, dimana dalam
festival tersebut dipamerkan berbagai macam budaya asli Sumbawa, hingga
produk-produk khas Daerah Sumbawa, sehingga mampu menarik perhatian wisata
lokal maupun dunia terkait indah dan kayanya budaya yang dimiliki oleh Sumbawa
dan layak untuk diketahui publik secara meluas.
Festival
Moyo merupakan event tahunan yang bertujuan untuk mengenalkan budaya dan
merupakan bagian dari kampanye "Go Sumbawa" sebagai promosi
pariwisata Kabupaten Sumbawa. Festival moyo sebagai upaya pemerintah daerah
Sumbawa sebagai wahana aktualisasi cinta budaya Sumbawa, kenali dan kunjungi
destinasi pariwisata Sumbawa serta menikmati kuliner khas daerah dan juga
kerajinan hasil tangan terampil dari perajin Sumbawa.
Nama Festival Moyo diambil dari salah satu nama
pulau yang ada di Sumbawa yaitu Pulau Moyo. Pulau Moyo merupakan pulau yang
eksotis dan sudah terkenal karena keindahannya baik di Indonesia maupun
mancanegara. Festival Moyo menggunakan nama Pulau Moyo agar citra “Eklusif dan
mahal” dapat berubah menjadi image baru Pulau Moyo yaitu “siapapun bisa
ke pulau Moyo”. Pergantian image ini bertujuan agar dapat mempengaruhi minat
wisata asing maupun domestik untuk berkunjung ke Pulau Moyo tanpa berfikir
memerlukan budget tinggi. Pertimbangan atas dasar inilah
pemerintah daerah Sumbawa memberi nama Festival Moyo. Pelaksanaan
festival ini dibeberapa lokasi di Kabupaten Sumbawa yaitu di, taman buru dan
taman wisata laut Pulau Moyo, kawasan teluk saleh, Sumbawa Besar serta beberapa
daerah di kecamatan Sumbawa dan acara ini berpusat di Lapangan Pahlawan di
Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa.
Festival
moyo terdiri dari delapan belas rangkaian acara, antara lain adalah
Baguntung Rame, yang merupakan bagian dari acara pembuka dimana Baguntung
Rame meurpakan atraksi menabuh “Rantok” (alat penumbuk padi) dengan alu
sehingga menimbulkan harmoni musik yang indah diselingi tembang “balawas nuja”
(tembang khas yang dinyanyikan saat menumbuk padi). Tari massal atau sakede,
yaitu tari kreasi baru yang diramu
dari gerakan “sakede” (proses memisahkan beras dengan gabah
menggunakan tampi) dengan gerak dan gaya tari Samawa antara lain seperti
lunte, jempit, geo polak, bakaliung, basarenjo dan sere. Pawai budaya, eksebisi
syarakal, Pekan Budaya Samawa (PBS) XVIII Tahun, MICE/EKSPO UMKM, main
jaran (Pacuan Kuda), pameran batu akik, kontes burung
berkicau, sepeda gunung, barapan kebo (karapan
kerbau).[3] Dengan adanya festival tahunan ini
diharapkan mampu menjadi sarana publikasi dan promosi ( media campaign )
bagi Pemerintah Daerah Sumbawa dalam regional nasional dan internasional,
pemerintah daerah ingin membuat daerah Sumbawa sebagai daerah pariwisata yang
banyak dikunjungi baik turis lokal maupun mancanegara. Dengan adanya Festival
Moyo juga memberi dampak meningkatnya pendapatan daerah terutama di sektor
pariwisata dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Sumbawa di beberapa sektor
kehidupan. Pentingnya tercapainya tujuan dari festival moyo dibutuhkan
promosi publik yang dilakukan oleh pemerintah Sumbawa maupun masyarakat baik
secara organisasi maupun individu. Dengan semakin berkembangnya teknologi di
jaman modern ini, banyak media yang dapat digunakan untuk mempromosikan ke
publik, seperti media massa (elektronik dan cetak) dan media sosial. Hal ini yang menjadi harapan dan keinginan Pemerintah Daerah
Kabupaten sumbawa sebagai political will yang mana diartikan
sebagai “niatan pimpinan” untuk melakukan hal hal yang dianggap perlu untuk
kebaikan bersama dalam jangka panjang. Political will inilah yang dilakukan
Bupati sebagai Kepala daerah dalam upaya membangun serta mensejahterakan
masyarakatnya sehingga dapat mempercepat pembangunan daerah, mampu memperkenalkan budaya dan wisata Sumbawa
dikancah internasional, adanya kerjasama dengan
Perusahaan Internasional seperti PT. Newmont Nusa Tenggara ( NNT )[4], bahkan melibatkan aktor-aktor non-state seperti seperti blogger
dan traveler, juga event organizer dari pihak pemerintah bekerja sama dengan pihak
sponsor yang langsung terlibat dalam pelaksanaan Festival Moyo, hingga mampu mendatangkan investor asing yang
akhirnya membuat pendapatan daerah bertambah. Dalam kajian ilmu Hubungan internasional, usaha ataupun cara yang dilakukan suatu negara untuk mempengaruhi opini publik melalui media massa ini disebut sebagai Diplomasi publik, dimana Diplomasi Publik memiliki beberapa instrument salah satunya yaitu Diplomasi Budaya. Diplomasi Budaya merupakan cara yang lebih aman dibandingkan oleh diplomasi Politik maupun ekonomi, dikarenakan diplomasi budaya ialah pertukaran ide,informasi, nilai, tradisi kepercayaan dan aspek budaya budaya lainnya.[5] Upaya Diplomasi Budaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan masyarakat Sumbawa melalui festival moyo ini diharapkan dapat memperbaiki citra serta mengenalkan budaya Sumbawa secara luas baik kepada wisatawan
lokal maupun wisatawan asing. Di sektor publik, diakui atau tidak, dengan
adanya penerapan otonomi daerah dan semakin nyata serta meluasnya trend
globalisasi saat ini, daerah pun harus saling berebut satu sama lain dalam hal
Perhatian (attention), Pengaruh (influence), Pasar (market),
Tujuan Bisnis & Investasi (business & investment destination), Turis
(tourist), Tempat tinggal penduduk (residents), Orang-orang berbakat (talents),
dan, Pelaksanaan kegiatan (events).
Oleh
karena itu sebuah daerah membutuhkan Brand yang kuat. Secara definisi, City
Branding adalah indentitas, symbol, logo, atau merk yang melekat
pada suatu daerah.[6]
Sebuah
pemda harus membangun Brand (brand building) untuk
daerahnya, tentu yang sesuai dengan potensi maupun positioning yang menjadi
target daerah tersebut. Oleh karena itu, pemda-pemda di Indonesia, baik level
provinsi, kabupaten, atau kota perlu melakukan City Branding, agar
daerahnya bisa makin dikenal, sehingga diharapkan pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakatnya makin meningkat.
[1]Kabupaten Sumbawa, Sejarah Kabupaten Sumbawa,
diakses dalam sumbawakab.go.id/index_static.html?id=3, pada tanggal 21
Agustus 2015 pukul 17:29 WIB.
[2] Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,tentang Pedoman Pelestarian Budaya No.42
th.2009/No.40 th.2009.
[3] Proposal Kegiatan Festival Moyo 2015 oleh Dinas
Pemuda, Olahraga, budaya dan Pariwisata ( Disporabudpar ) Sumbawa Besar.
[4] Pelestarian Budaya Samawa Tanggungjawab Semua
Pihak,diakses dalam
www.sumbawakab.go.id/berita/3484/Pelestarian-Budaya-Samawa-Tanggungjawab-Semua-Pihak.html,
pada tanggal 28 oktober 2015
[5] Clarisa Gabriella, e13108853, 2013, Peran
Diplomasi Kebudayaan Indonesia dalam Pencapaian Kepentingan Nasionalnya,
Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin
[6] Kementerian Dalam Negeri, City Branding untuk
PEMDA: Perlukah? diakses dalam
http://www.kemendagri.go.id/article/2013/04/12/city-branding-untuk-pemda-perlukah
pada tanggal 28 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar