Senin, 25 Januari 2016

Kebijakan Pemerintah Daerah Sumbawa dalam memilih Festival Moyo sebagai instrument pengenalan budaya Sumbawa ke dunia Internasional.

Kabupaten Sumbawa merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Barat yang terletak di Pulau Sumbawa, dimana Kabupaten Sumbawa terdiri dari 20 kecamatan pada tahun 2003. Hal ini berdasarkan adanya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 tentang pemerkaran wilayah menjadi Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat. Kemudian seiring dengan perkembangan dinamika masyarakat di wilayah kecamatan Lape Lopok dan kecamatan Ropang dan sebagai implementasi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Kecamatan Lape Lopok dan Kecamatan Ropang, dimekarkan kembali yaitu Kecamatan Lopok dan Kecamatan Lape, sedangkan  Kecamatan Ropang dimekarkan kembali yaitu Kecamatan Ropang,  Kecamatan Lantung  dan  Kecamatan Lenangguar. Sehingga keseluruhan kecamatan di Kabupaten Sumbawa sejak terbentuknya sampai dengan sekarang berjumlah 24 (dua puluh empat ) kecamatan.[1]
Kabupaten Sumbawa memiliki beragam seni dan budaya serta potensi alam yang berlimpah seperti potensi disektor pertanian, perternakan, perikanan dan sektor pariwisata. Berlimpahnya potensi yang ada membuat pemerintah Kabupaten Sumbawa berupaya memaksimalkan potensi daerahnya, mengingat diplomasi budaya dalam perkembangannya tidak hanya dilakukan Pemerintah pusat namun Pemerintah daerah pun mampu dan berhak untuk melakukan suatu diplomasi yang mana dalam hal memperkenalkan budaya nya agar kesenian, budaya serta lokasi pariwisata nya mampu dikenal dan memberikan citra positif kepada daerah lain maupun dikancah internasional.
 Di indonesia sendiri upaya mengenalkan kearifan lokal ini tidak hanya menjadi tugas Pemerintah Pusat melainkan juga menjadi tugas Pemerintah Daerah seperti sebagaimana diatur didalam Peraturan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan Pariwisata mengenai Pedoman Pelestarian Kebudayaan.[2] Hal ini membuat Pemerintah daerah Sumbawa ingin budaya , kesenian serta pariwisata nya mampu dikenal serta memberikan dampak positif kepada daerah baik dalam peningkatan wisatawan ataupun peningkatan ekonomi daerahnya, salah satu upaya Pemerintah Daerah Sumbawa yaitu dengan mengadakan Festival Moyo dengan harapan dapat memberikan dan menyampaikan citra positif kepada masyarakat luas baik lokal maupun internasional serta dapat membantu meningkatkan pembangunan serta ekonomi masyarakat maupun daerahFestival Moyo yang ada di Sumbawa juga bisa dikategorikan sebagai kearifan lokal di Sumbawa.
Pemerintah Daerah Sumbawa sudah mulai memperkenalkan Festival Moyo ini mulai dari tahun 2012 hingga tahun 2015 sebagai upaya meningkatkan citra dari Festival Moyo tersebut ke dunia internasional sebagaimana festival festival budaya tradisional di daerah lainnya, sehingga melalui festival tersebut diharapkan mampu mengkomunikasikan / memperkenalkan budaya suatu daerah kekancah lokal maupun internasional, dan juga sebagai wujud melindungi, melestarikan dan pemeliharaan budaya asli daerah sebagai simbol dari daerahnya masing-masing , menimbang pentingnya warisan budaya takbenda sebagai sumber tenaga utama keanekaragaman budaya dan suatu jaminan pembangunan berkelanjutan. Festival Moyo juga merupakan simbol daripada Sumbawa itu sendiri, dimana dalam festival tersebut dipamerkan berbagai macam budaya asli Sumbawa, hingga produk-produk khas Daerah Sumbawa, sehingga mampu menarik perhatian wisata lokal maupun dunia terkait indah dan kayanya budaya yang dimiliki oleh Sumbawa dan layak untuk diketahui publik secara meluas.
Festival Moyo merupakan event tahunan yang bertujuan untuk mengenalkan budaya dan merupakan bagian dari kampanye "Go Sumbawa" sebagai promosi pariwisata Kabupaten Sumbawa. Festival moyo sebagai upaya pemerintah daerah Sumbawa sebagai wahana aktualisasi cinta budaya Sumbawa, kenali dan kunjungi destinasi pariwisata Sumbawa serta menikmati kuliner khas daerah dan juga kerajinan hasil tangan terampil dari perajin Sumbawa.
Nama Festival Moyo diambil dari salah satu nama pulau yang ada di Sumbawa yaitu Pulau Moyo. Pulau Moyo merupakan pulau yang eksotis dan sudah terkenal karena keindahannya baik di Indonesia maupun mancanegara. Festival Moyo menggunakan nama Pulau Moyo agar citra “Eklusif dan mahal” dapat berubah menjadi image baru Pulau Moyo yaitu  “siapapun bisa ke pulau Moyo”. Pergantian image ini bertujuan agar dapat mempengaruhi minat wisata asing maupun domestik untuk berkunjung ke Pulau Moyo tanpa berfikir memerlukan budget tinggi. Pertimbangan atas dasar inilah pemerintah daerah Sumbawa memberi nama Festival Moyo. Pelaksanaan festival ini dibeberapa lokasi di Kabupaten Sumbawa yaitu di, taman buru dan taman wisata laut Pulau Moyo, kawasan teluk saleh, Sumbawa Besar serta beberapa daerah di kecamatan Sumbawa dan acara ini berpusat di Lapangan Pahlawan di Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa.
Festival moyo terdiri dari delapan belas rangkaian acara, antara lain adalah  Baguntung Rame, yang merupakan bagian dari acara pembuka dimana Baguntung Rame meurpakan atraksi menabuh “Rantok” (alat penumbuk padi) dengan alu sehingga menimbulkan harmoni musik yang indah diselingi tembang “balawas nuja” (tembang khas yang dinyanyikan saat menumbuk padi). Tari massal atau sakede, yaitu  tari  kreasi  baru  yang  diramu  dari  gerakan  “sakede”  (proses memisahkan beras dengan gabah menggunakan tampi) dengan gerak dan gaya tari Samawa antara lain seperti  lunte, jempit, geo polak, bakaliung, basarenjo dan sere. Pawai budaya, eksebisi syarakal, Pekan Budaya Samawa (PBS) XVIII Tahun, MICE/EKSPO UMKMmain jaran (Pacuan Kuda)pameran batu akik, kontes burung berkicau sepeda gunung, barapan kebo (karapan kerbau).[3] Dengan adanya festival tahunan ini diharapkan mampu menjadi sarana publikasi dan promosi ( media campaign ) bagi Pemerintah Daerah Sumbawa dalam regional nasional dan internasional, pemerintah daerah ingin membuat daerah Sumbawa sebagai daerah pariwisata yang banyak dikunjungi baik turis lokal maupun mancanegara. Dengan adanya Festival Moyo juga memberi dampak meningkatnya pendapatan daerah terutama di sektor pariwisata dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Sumbawa di beberapa sektor kehidupan. Pentingnya tercapainya tujuan dari festival moyo dibutuhkan promosi publik yang dilakukan oleh pemerintah Sumbawa maupun masyarakat baik secara organisasi maupun individu. Dengan semakin berkembangnya teknologi di jaman modern ini, banyak media yang dapat digunakan untuk mempromosikan ke publik, seperti media massa (elektronik dan cetak) dan media sosial.      Hal ini yang menjadi harapan dan keinginan Pemerintah Daerah Kabupaten sumbawa sebagai political will yang mana diartikan sebagai “niatan pimpinan” untuk melakukan hal hal yang dianggap perlu untuk kebaikan bersama dalam jangka panjang. Political will inilah yang dilakukan Bupati sebagai Kepala daerah dalam upaya membangun serta mensejahterakan masyarakatnya sehingga dapat mempercepat pembangunan daerahmampu memperkenalkan budaya dan wisata Sumbawa dikancah internasional, adanya kerjasama dengan Perusahaan Internasional seperti PT. Newmont Nusa Tenggara ( NNT )[4], bahkan melibatkan aktor-aktor non-state seperti seperti blogger dan traveler, juga event organizer dari pihak pemerintah bekerja sama dengan pihak sponsor yang langsung terlibat dalam pelaksanaan Festival Moyo, hingga mampu mendatangkan investor asing yang akhirnya membuat pendapatan daerah bertambah. Dalam kajian ilmu Hubungan internasional, usaha ataupun cara yang dilakukan suatu negara untuk mempengaruhi opini publik melalui media massa ini disebut sebagai Diplomasi publik, dimana Diplomasi Publik memiliki beberapa instrument salah satunya yaitu Diplomasi Budaya. Diplomasi Budaya merupakan cara yang lebih aman dibandingkan oleh diplomasi Politik maupun ekonomi, dikarenakan diplomasi budaya ialah pertukaran ide,informasi, nilai, tradisi kepercayaan dan aspek budaya budaya lainnya.[5] Upaya Diplomasi Budaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan masyarakat Sumbawa melalui festival moyo ini diharapkan dapat memperbaiki citra serta mengenalkan budaya Sumbawa secara luas baik kepada wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Di sektor publik, diakui atau tidak, dengan adanya penerapan otonomi daerah dan semakin nyata serta meluasnya trend globalisasi saat ini, daerah pun harus saling berebut satu sama lain dalam hal Perhatian (attention), Pengaruh (influence), Pasar (market), Tujuan Bisnis & Investasi (business & investment destination), Turis (tourist), Tempat tinggal penduduk (residents), Orang-orang berbakat (talents), dan, Pelaksanaan kegiatan (events).
Oleh karena itu sebuah daerah membutuhkan Brand yang kuat. Secara definisi, City Branding  adalah indentitas, symbol, logo, atau merk yang melekat pada suatu daerah.[6]
Sebuah pemda harus membangun Brand (brand building) untuk daerahnya, tentu yang sesuai dengan potensi maupun positioning yang menjadi target daerah tersebut. Oleh karena itu, pemda-pemda di Indonesia, baik level provinsi, kabupaten, atau kota perlu melakukan City Branding, agar daerahnya bisa makin dikenal, sehingga diharapkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya makin meningkat. 




[1]Kabupaten Sumbawa, Sejarah Kabupaten Sumbawa, diakses dalam sumbawakab.go.id/index_static.html?id=3, pada tanggal  21 Agustus 2015 pukul 17:29 WIB.
[2] Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,tentang Pedoman Pelestarian Budaya No.42 th.2009/No.40 th.2009.
[3] Proposal Kegiatan Festival Moyo 2015 oleh Dinas Pemuda, Olahraga, budaya dan Pariwisata ( Disporabudpar ) Sumbawa Besar.
[4] Pelestarian Budaya Samawa Tanggungjawab Semua Pihak,diakses dalam www.sumbawakab.go.id/berita/3484/Pelestarian-Budaya-Samawa-Tanggungjawab-Semua-Pihak.html, pada tanggal 28 oktober 2015
[5] Clarisa Gabriella, e13108853, 2013, Peran Diplomasi Kebudayaan Indonesia dalam Pencapaian Kepentingan Nasionalnya, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin
[6] Kementerian Dalam Negeri, City Branding untuk PEMDA: Perlukah? diakses dalam http://www.kemendagri.go.id/article/2013/04/12/city-branding-untuk-pemda-perlukah pada tanggal 28 Oktober 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar