Kamis, 28 Januari 2016

SATELITE COMPASS SEBAGAI INSTRUMEN CHINA DALAM MELEPAS KETERGANTUNGAN TERHADAP SATELITE AMERIKA SERIKAT


Isu pembangunan dalam kajian Hubungan Internasional merupakan isu yang telah lama lahir, namun masih menjadi bahan yang menarik untuk terus dibicarakan sampai saat ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi isu yang akan terus dibicarakan sampai nanti selama negara masih ada. Hal ini terkait dengan makna pembangunan itu sendiri, sebagai sebuah proses ‘perubahan’ dan ‘kemajuan’, maka, proses pembangunan yang dilakukan pada masa lalu, akan dapat terlihat hasilnya saat ini. Sedangkan proses pembangunan yang dilakukan saat ini, hasilnya akan terlihat nanti. Alasan itulah yang menjadikan penulis tertarik menulis skripsi yang berfokus pada soal pembangunan dalam hal membangun satellite untuk melepas dari ketergantungan suatu negara yaitu negara Cina dalam usahanya untuk melepas ketergantungannya dengan satelitte Amerika.
Sejauh ini Cina tampil sebagai orang luar yang sabar dan gigih dalam berusaha menjadi orang dalam, sebagai sebuah kekuatan yang sedang bangkit. Cina harus memenuhi dan menyesuaikan diri dengan norma internasional yang berlaku, dan terutama menghormati serta menenangkan aditdaya saat ini. Amerika Serikat yang kerja sama dan dukungan diam-diamnya merupakan prasyarat bagi penerimaan lebih luas Cina[1]

Negara-negara terus melengkapi dan meningkatkan kemampuan GNSS ( Global Navigation Satellite System ) sehingga dapat di gunakan oleh negara-negara di seluruh dunia. GNSS telah dimanfaatkan untuk tujuan militer, transportasi/angkutan, baik darat, laut, maupun udara, dan digunakan untuk penentuan geografis, pemantauan gunung berapi dan penelitian Sistem satelit navigasi global GNSS terdiri dari segmen antariksa, segmen  pengendali  dan  segmen pengguna. Segmen antariksa (satelit) memancarkan sinyal navigasi kepada segmen pemakai, yang dikendalikan stasiun pengendali di Bumi. Satelit navigasi terdiri dari konstelasi satelit dengan cakupan global. Fungsi satelit- satelit tersebut mengirim sinyal ke receiver  yang  dipasang  di  pesawat terbang, kapal laut, kendaraan bermotor dan manusia, untuk dapat menentukan posisi-posisi mereka.
Satelit navigasi mempunyai kemampuan untuk memberikan informasi tentang posisi  lokasi  geografis  dan sinkronisasi waktu dalam penggunaan sinyal real time dari satelit navigasi yang mengorbit. Posisi yang ditentukan terdiri dari 4 (empat) dimensi yaitu garis bujur, garis lintang, ketinggian, dan waktu (Justin Borton, 2010).
Satelit navigasi juga digunakan dalam berbagai sektor yaitu penelitian/survey, precision farming/ketelitian dalam pertanian, mendukung pencarian  dan  penyelamatan,  ilmu kebumian,  manajemen  transportasi, pergantian waktu yang tepat, manajemen/pelacakan/anti pencurian. Sistem GNSS terus berkembang dan kemudian juga digunakan dalam berbagai sektor, seperti pengangkutan, keamanan, pengawasan, dan industri.  Satelit navigasi global memancarkan sinyal navigasi penentuan posisi kepada pengguna yang dikendalikan dari stasiun pengendali di Bumi. Penentuan posisi dapat dilakukan berdasarkan 4 (empat) dimensi, yaitu berdasarkan garis bujur, garis lintang, ketinggian dan waktu. Saat ini negara-negara mengembangkan sistem satelit navigasi global Global Navigation Satellite Systems (GNSS). GNSS yang telah dikembangkan antara lain: (i) Global Positioning System (GPS) milik Amerika Serikat, di mana secara efektif telah menyediakan layanan global, dan (ii) Global Navigation Satellite System (GLONASS) milik Rusia (Uni Soviet), juga telah efektif menyediakan layanan global. Sedangkan GNSS yang sedang dikembangkan adalah (i) Sistem Galileo milik Eropa yang dikembangkan Uni Eropa bekerjasama dengan European Space Agency (ESA), (ii) Sistem navigasi regional Beidou, dikembangkan Cina, (iii) Sistem navigasi India Regional Navigational Satellite System (IRNSS) dikembangkan oleh India, dan (iv) Quasi-Zenith System Satellite (QZSS) akan dikembangkan oleh Jepang. [2]
China sendiri mengembangkan sistem ini, dimana sistem satelit navigasi negara China telah memasuki era baru dengan diluncurkannya satelit compass. Satelit dengan nama sistem "Compass" itu mampu memberikan layanan navigasi, waktu dan pesan singkat di wilayah Asia-Pasifik sebelum 2012 dan seluruh dunia menjelang 2020. China mulai membina rangkaian navigasi angkasa sejak tahun 2000 langkah China ini lebih lanjut bertujuan untuk mengakhiri ketergantungan China pada satelit Amerika Serikat (AS) yang menyediakan layanan navigasi dan positioning. Beijing memulai langkah untuk mengakhiri ketergantungannya pada Global Positioning System AS,
Pemerintah Cina meluncurkan satelit Compass yang digunakan untuk transportasi, eksplorasi minyak, pemantau cuaca, perkiraan bencana, telekomunikasi dan keamanan publik. Satelit yang diluncurkan di daerah Sichuan, Cina bagian barat daya itu menjadi bentuk kemandirian pemerintah tirai bambu atas ketergantungan terhadap satelit milik Amerika Serikat yang menyediakan layanan navigasi dan positioning. China ingin melepas ketergantungannya dari satelite AS, untuk mengembangkan sistemnya , meskipun begitu China juga melakukan koordinasi frekuensi bilateral dengan Eropa (GALILEO), AS (GPS), Rusia (Glonass).[3]
Satelit China bertujuan untuk menyediakan navigasi, waktu, dan layanan pesan singkat di wilayah Asia-Pasifik sebelum 2012 dan akan mampu menawarkan navigasi global pada 2020.
Sistem satelit navigasi merupakan infrastruktur bangunan angkasa yang sangat penting, dimana dapat memperluas rentang aktifitas manusia dan mengembangkan kemampuan bersosialisasi mereka. Satelit navigasi membawa perubahan dalam dunia politik, ekonomi, militer, teknologi dan budaya. Dengan sejarah yang panjang dan kebudayaan yang indah, China merupakan salah satu negara yang penting dalam perkembangan peradaban awal manusia. Di masa kuno, rakyat China menggunakan konstelasi rasi bintang biduk (Big Dipper) dalam penentuan arah. Mereka juga yang pertama kali menemukan alat navigasi pertama di dunia, yaitu kompas kuno (Sinan), yang mana kompas kuno itu lah yang memberi kontribusi sangat besar dalam perkembangan peradaban dunia. Dalam peradaban modern, sistem satelit navigasi COMPASS buatan mereka, akan menjadi kontribusi lainnya bagi umat manusia (CSNO, 2011).
Beidou (COMPASS) Satellite Navigation System adalah sebuah proyek yang dikembangkan oleh China dalam rangka membuat sistem satelit navigasi yang independent, tidak tergantung sistem negara lainnya. Nama dari sistem ini diambil dari rasi bintang biduk (Big Dipper) dimana dalam bahasa China disebut Beidou. Konstelasi rasi bintang biduk atau Big Dipper.
Secara harfiah nama itu berarti Biduk Utara atau Northern Dipper, nama yang diberikan para astronom untuk 7 bintang paling terang dalam konstelasi Ursa Major atau “The Great Bear”. Sejarahnya, susunan bintang ini lah yang digunakan para astronom dalam penentuan lokasi arah bintang utara kutub. Dengan demikian, Beidou juga merupakan sebuah metafora tujuan sistem satelit navigasi.
Sejak secara resmi melayani pengguna pada tahun 2003, sistem satelit navigasi COMPASS telah banyak digunakan dalam berbagai bidang khususnya oleh pemerintah dan masyarakat China. Selain itu sistem COMPASS juga penting dalam hal navigasi, penentuan waktu, dan komunikasi, khususnya ketika sistem komunikasi terrestrial tidak bekerja.
Menurut China National Administration of GNSS and Applications (CNAGA), pengguna Sistem COMPASS meningkat dari tahun ke tahun (Gambar 1), hal ini  menunjukkan betapa tingginya antusiasme konsumen terhadap sistem ini.



Gambar 1 Grafik peningkatan pengguna sistem COMPASS
Sumber data:  CNAGA,  2009
Melalui pembangunan sistem Beidou yang terintegrasi, China berharap tidak tergantung lagi kebutuhan satelitenya dari negara lain khususnya Amerika Serikat.



[1] Martin Jacques, 2011. When China Rules The World (Ketika Cina Menguasai Dunia), Kebangkitan Dunia Timur dan Akhir Dunia Barat. Penerbit PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta., hal 478
[2] Jakondar Bakara, Perkembangan satelit Navigasi Global dan Aplikasinya, vol.12 , no.2 ,Juni 2011, Peneliti Bidang Kedirgantaraan Nasional, LAPAN , hal.38-37
[3] Fandi Firsta Adilla Tamsin, 15108060, 2012, Sistem Satelite Navigasi Compass, Program Study Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung


Senin, 25 Januari 2016

Kebijakan Pemerintah Daerah Sumbawa dalam memilih Festival Moyo sebagai instrument pengenalan budaya Sumbawa ke dunia Internasional.

Kabupaten Sumbawa merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Barat yang terletak di Pulau Sumbawa, dimana Kabupaten Sumbawa terdiri dari 20 kecamatan pada tahun 2003. Hal ini berdasarkan adanya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003 tentang pemerkaran wilayah menjadi Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat. Kemudian seiring dengan perkembangan dinamika masyarakat di wilayah kecamatan Lape Lopok dan kecamatan Ropang dan sebagai implementasi Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Kecamatan Lape Lopok dan Kecamatan Ropang, dimekarkan kembali yaitu Kecamatan Lopok dan Kecamatan Lape, sedangkan  Kecamatan Ropang dimekarkan kembali yaitu Kecamatan Ropang,  Kecamatan Lantung  dan  Kecamatan Lenangguar. Sehingga keseluruhan kecamatan di Kabupaten Sumbawa sejak terbentuknya sampai dengan sekarang berjumlah 24 (dua puluh empat ) kecamatan.[1]
Kabupaten Sumbawa memiliki beragam seni dan budaya serta potensi alam yang berlimpah seperti potensi disektor pertanian, perternakan, perikanan dan sektor pariwisata. Berlimpahnya potensi yang ada membuat pemerintah Kabupaten Sumbawa berupaya memaksimalkan potensi daerahnya, mengingat diplomasi budaya dalam perkembangannya tidak hanya dilakukan Pemerintah pusat namun Pemerintah daerah pun mampu dan berhak untuk melakukan suatu diplomasi yang mana dalam hal memperkenalkan budaya nya agar kesenian, budaya serta lokasi pariwisata nya mampu dikenal dan memberikan citra positif kepada daerah lain maupun dikancah internasional.
 Di indonesia sendiri upaya mengenalkan kearifan lokal ini tidak hanya menjadi tugas Pemerintah Pusat melainkan juga menjadi tugas Pemerintah Daerah seperti sebagaimana diatur didalam Peraturan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan Pariwisata mengenai Pedoman Pelestarian Kebudayaan.[2] Hal ini membuat Pemerintah daerah Sumbawa ingin budaya , kesenian serta pariwisata nya mampu dikenal serta memberikan dampak positif kepada daerah baik dalam peningkatan wisatawan ataupun peningkatan ekonomi daerahnya, salah satu upaya Pemerintah Daerah Sumbawa yaitu dengan mengadakan Festival Moyo dengan harapan dapat memberikan dan menyampaikan citra positif kepada masyarakat luas baik lokal maupun internasional serta dapat membantu meningkatkan pembangunan serta ekonomi masyarakat maupun daerahFestival Moyo yang ada di Sumbawa juga bisa dikategorikan sebagai kearifan lokal di Sumbawa.
Pemerintah Daerah Sumbawa sudah mulai memperkenalkan Festival Moyo ini mulai dari tahun 2012 hingga tahun 2015 sebagai upaya meningkatkan citra dari Festival Moyo tersebut ke dunia internasional sebagaimana festival festival budaya tradisional di daerah lainnya, sehingga melalui festival tersebut diharapkan mampu mengkomunikasikan / memperkenalkan budaya suatu daerah kekancah lokal maupun internasional, dan juga sebagai wujud melindungi, melestarikan dan pemeliharaan budaya asli daerah sebagai simbol dari daerahnya masing-masing , menimbang pentingnya warisan budaya takbenda sebagai sumber tenaga utama keanekaragaman budaya dan suatu jaminan pembangunan berkelanjutan. Festival Moyo juga merupakan simbol daripada Sumbawa itu sendiri, dimana dalam festival tersebut dipamerkan berbagai macam budaya asli Sumbawa, hingga produk-produk khas Daerah Sumbawa, sehingga mampu menarik perhatian wisata lokal maupun dunia terkait indah dan kayanya budaya yang dimiliki oleh Sumbawa dan layak untuk diketahui publik secara meluas.
Festival Moyo merupakan event tahunan yang bertujuan untuk mengenalkan budaya dan merupakan bagian dari kampanye "Go Sumbawa" sebagai promosi pariwisata Kabupaten Sumbawa. Festival moyo sebagai upaya pemerintah daerah Sumbawa sebagai wahana aktualisasi cinta budaya Sumbawa, kenali dan kunjungi destinasi pariwisata Sumbawa serta menikmati kuliner khas daerah dan juga kerajinan hasil tangan terampil dari perajin Sumbawa.
Nama Festival Moyo diambil dari salah satu nama pulau yang ada di Sumbawa yaitu Pulau Moyo. Pulau Moyo merupakan pulau yang eksotis dan sudah terkenal karena keindahannya baik di Indonesia maupun mancanegara. Festival Moyo menggunakan nama Pulau Moyo agar citra “Eklusif dan mahal” dapat berubah menjadi image baru Pulau Moyo yaitu  “siapapun bisa ke pulau Moyo”. Pergantian image ini bertujuan agar dapat mempengaruhi minat wisata asing maupun domestik untuk berkunjung ke Pulau Moyo tanpa berfikir memerlukan budget tinggi. Pertimbangan atas dasar inilah pemerintah daerah Sumbawa memberi nama Festival Moyo. Pelaksanaan festival ini dibeberapa lokasi di Kabupaten Sumbawa yaitu di, taman buru dan taman wisata laut Pulau Moyo, kawasan teluk saleh, Sumbawa Besar serta beberapa daerah di kecamatan Sumbawa dan acara ini berpusat di Lapangan Pahlawan di Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa.
Festival moyo terdiri dari delapan belas rangkaian acara, antara lain adalah  Baguntung Rame, yang merupakan bagian dari acara pembuka dimana Baguntung Rame meurpakan atraksi menabuh “Rantok” (alat penumbuk padi) dengan alu sehingga menimbulkan harmoni musik yang indah diselingi tembang “balawas nuja” (tembang khas yang dinyanyikan saat menumbuk padi). Tari massal atau sakede, yaitu  tari  kreasi  baru  yang  diramu  dari  gerakan  “sakede”  (proses memisahkan beras dengan gabah menggunakan tampi) dengan gerak dan gaya tari Samawa antara lain seperti  lunte, jempit, geo polak, bakaliung, basarenjo dan sere. Pawai budaya, eksebisi syarakal, Pekan Budaya Samawa (PBS) XVIII Tahun, MICE/EKSPO UMKMmain jaran (Pacuan Kuda)pameran batu akik, kontes burung berkicau sepeda gunung, barapan kebo (karapan kerbau).[3] Dengan adanya festival tahunan ini diharapkan mampu menjadi sarana publikasi dan promosi ( media campaign ) bagi Pemerintah Daerah Sumbawa dalam regional nasional dan internasional, pemerintah daerah ingin membuat daerah Sumbawa sebagai daerah pariwisata yang banyak dikunjungi baik turis lokal maupun mancanegara. Dengan adanya Festival Moyo juga memberi dampak meningkatnya pendapatan daerah terutama di sektor pariwisata dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Sumbawa di beberapa sektor kehidupan. Pentingnya tercapainya tujuan dari festival moyo dibutuhkan promosi publik yang dilakukan oleh pemerintah Sumbawa maupun masyarakat baik secara organisasi maupun individu. Dengan semakin berkembangnya teknologi di jaman modern ini, banyak media yang dapat digunakan untuk mempromosikan ke publik, seperti media massa (elektronik dan cetak) dan media sosial.      Hal ini yang menjadi harapan dan keinginan Pemerintah Daerah Kabupaten sumbawa sebagai political will yang mana diartikan sebagai “niatan pimpinan” untuk melakukan hal hal yang dianggap perlu untuk kebaikan bersama dalam jangka panjang. Political will inilah yang dilakukan Bupati sebagai Kepala daerah dalam upaya membangun serta mensejahterakan masyarakatnya sehingga dapat mempercepat pembangunan daerahmampu memperkenalkan budaya dan wisata Sumbawa dikancah internasional, adanya kerjasama dengan Perusahaan Internasional seperti PT. Newmont Nusa Tenggara ( NNT )[4], bahkan melibatkan aktor-aktor non-state seperti seperti blogger dan traveler, juga event organizer dari pihak pemerintah bekerja sama dengan pihak sponsor yang langsung terlibat dalam pelaksanaan Festival Moyo, hingga mampu mendatangkan investor asing yang akhirnya membuat pendapatan daerah bertambah. Dalam kajian ilmu Hubungan internasional, usaha ataupun cara yang dilakukan suatu negara untuk mempengaruhi opini publik melalui media massa ini disebut sebagai Diplomasi publik, dimana Diplomasi Publik memiliki beberapa instrument salah satunya yaitu Diplomasi Budaya. Diplomasi Budaya merupakan cara yang lebih aman dibandingkan oleh diplomasi Politik maupun ekonomi, dikarenakan diplomasi budaya ialah pertukaran ide,informasi, nilai, tradisi kepercayaan dan aspek budaya budaya lainnya.[5] Upaya Diplomasi Budaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan masyarakat Sumbawa melalui festival moyo ini diharapkan dapat memperbaiki citra serta mengenalkan budaya Sumbawa secara luas baik kepada wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Di sektor publik, diakui atau tidak, dengan adanya penerapan otonomi daerah dan semakin nyata serta meluasnya trend globalisasi saat ini, daerah pun harus saling berebut satu sama lain dalam hal Perhatian (attention), Pengaruh (influence), Pasar (market), Tujuan Bisnis & Investasi (business & investment destination), Turis (tourist), Tempat tinggal penduduk (residents), Orang-orang berbakat (talents), dan, Pelaksanaan kegiatan (events).
Oleh karena itu sebuah daerah membutuhkan Brand yang kuat. Secara definisi, City Branding  adalah indentitas, symbol, logo, atau merk yang melekat pada suatu daerah.[6]
Sebuah pemda harus membangun Brand (brand building) untuk daerahnya, tentu yang sesuai dengan potensi maupun positioning yang menjadi target daerah tersebut. Oleh karena itu, pemda-pemda di Indonesia, baik level provinsi, kabupaten, atau kota perlu melakukan City Branding, agar daerahnya bisa makin dikenal, sehingga diharapkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya makin meningkat. 




[1]Kabupaten Sumbawa, Sejarah Kabupaten Sumbawa, diakses dalam sumbawakab.go.id/index_static.html?id=3, pada tanggal  21 Agustus 2015 pukul 17:29 WIB.
[2] Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,tentang Pedoman Pelestarian Budaya No.42 th.2009/No.40 th.2009.
[3] Proposal Kegiatan Festival Moyo 2015 oleh Dinas Pemuda, Olahraga, budaya dan Pariwisata ( Disporabudpar ) Sumbawa Besar.
[4] Pelestarian Budaya Samawa Tanggungjawab Semua Pihak,diakses dalam www.sumbawakab.go.id/berita/3484/Pelestarian-Budaya-Samawa-Tanggungjawab-Semua-Pihak.html, pada tanggal 28 oktober 2015
[5] Clarisa Gabriella, e13108853, 2013, Peran Diplomasi Kebudayaan Indonesia dalam Pencapaian Kepentingan Nasionalnya, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin
[6] Kementerian Dalam Negeri, City Branding untuk PEMDA: Perlukah? diakses dalam http://www.kemendagri.go.id/article/2013/04/12/city-branding-untuk-pemda-perlukah pada tanggal 28 Oktober 2015