Isu pembangunan dalam kajian Hubungan Internasional merupakan isu yang telah lama lahir, namun masih menjadi bahan yang menarik untuk terus dibicarakan sampai saat ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi isu yang akan terus dibicarakan sampai nanti selama negara masih ada. Hal ini terkait dengan makna pembangunan itu sendiri, sebagai sebuah proses ‘perubahan’ dan ‘kemajuan’, maka, proses pembangunan yang dilakukan pada masa lalu, akan dapat terlihat hasilnya saat ini. Sedangkan proses pembangunan yang dilakukan saat ini, hasilnya akan terlihat nanti. Alasan itulah yang menjadikan penulis tertarik menulis skripsi yang berfokus pada soal pembangunan dalam hal membangun satellite untuk melepas dari ketergantungan suatu negara yaitu negara Cina dalam usahanya untuk melepas ketergantungannya dengan satelitte Amerika.
Sejauh ini Cina tampil sebagai orang luar yang
sabar dan gigih dalam berusaha menjadi orang dalam, sebagai sebuah kekuatan
yang sedang bangkit. Cina harus memenuhi dan menyesuaikan diri dengan norma
internasional yang berlaku, dan terutama menghormati serta menenangkan aditdaya
saat ini. Amerika Serikat yang kerja sama dan dukungan diam-diamnya merupakan
prasyarat bagi penerimaan lebih luas Cina[1]
Negara-negara terus melengkapi dan meningkatkan
kemampuan GNSS ( Global Navigation Satellite System ) sehingga dapat di gunakan
oleh negara-negara di seluruh dunia. GNSS telah dimanfaatkan untuk tujuan
militer, transportasi/angkutan, baik darat, laut, maupun udara, dan digunakan
untuk penentuan geografis, pemantauan gunung berapi dan penelitian Sistem
satelit navigasi global GNSS terdiri dari segmen antariksa, segmen
pengendali dan segmen pengguna. Segmen antariksa (satelit)
memancarkan sinyal navigasi kepada segmen pemakai, yang dikendalikan stasiun
pengendali di Bumi. Satelit navigasi terdiri dari konstelasi satelit dengan
cakupan global. Fungsi satelit- satelit tersebut mengirim sinyal ke
receiver yang dipasang di pesawat terbang, kapal laut,
kendaraan bermotor dan manusia, untuk dapat menentukan posisi-posisi mereka.
Satelit navigasi mempunyai kemampuan untuk
memberikan informasi tentang posisi lokasi geografis dan
sinkronisasi waktu dalam penggunaan sinyal real time dari satelit navigasi yang
mengorbit. Posisi
yang ditentukan terdiri dari 4 (empat) dimensi yaitu garis bujur, garis
lintang, ketinggian, dan waktu (Justin Borton, 2010).
Satelit
navigasi juga digunakan dalam berbagai sektor yaitu penelitian/survey,
precision farming/ketelitian dalam pertanian, mendukung pencarian
dan penyelamatan, ilmu kebumian, manajemen
transportasi, pergantian waktu yang tepat, manajemen/pelacakan/anti pencurian.
Sistem GNSS terus berkembang dan kemudian juga digunakan dalam berbagai sektor,
seperti pengangkutan, keamanan, pengawasan, dan industri. Satelit navigasi global memancarkan sinyal
navigasi penentuan posisi kepada pengguna yang dikendalikan dari stasiun
pengendali di Bumi. Penentuan posisi dapat dilakukan berdasarkan 4 (empat)
dimensi, yaitu berdasarkan garis bujur, garis lintang, ketinggian dan waktu.
Saat ini negara-negara mengembangkan sistem satelit navigasi global Global
Navigation Satellite Systems (GNSS). GNSS yang telah dikembangkan antara lain:
(i) Global Positioning System (GPS) milik Amerika Serikat, di mana secara
efektif telah menyediakan layanan global, dan (ii) Global Navigation Satellite
System (GLONASS) milik Rusia (Uni Soviet), juga telah efektif menyediakan
layanan global. Sedangkan GNSS yang sedang dikembangkan adalah (i) Sistem
Galileo milik Eropa yang dikembangkan Uni Eropa bekerjasama dengan European
Space Agency (ESA), (ii) Sistem navigasi regional Beidou, dikembangkan Cina,
(iii) Sistem navigasi India Regional Navigational Satellite System (IRNSS)
dikembangkan oleh India, dan (iv) Quasi-Zenith System Satellite (QZSS) akan
dikembangkan oleh Jepang. [2]
China sendiri
mengembangkan sistem ini, dimana sistem satelit navigasi negara China telah
memasuki era baru dengan diluncurkannya satelit compass. Satelit dengan nama
sistem "Compass" itu mampu memberikan layanan navigasi, waktu dan
pesan singkat di wilayah Asia-Pasifik sebelum 2012 dan seluruh dunia menjelang
2020. China mulai membina rangkaian navigasi angkasa sejak tahun 2000 langkah
China ini lebih lanjut bertujuan untuk mengakhiri ketergantungan China pada
satelit Amerika Serikat (AS) yang menyediakan layanan navigasi dan
positioning. Beijing memulai langkah untuk mengakhiri
ketergantungannya pada Global Positioning System AS,
Pemerintah Cina meluncurkan satelit Compass yang
digunakan untuk transportasi, eksplorasi minyak, pemantau cuaca, perkiraan
bencana, telekomunikasi dan keamanan publik. Satelit yang diluncurkan di
daerah Sichuan, Cina bagian barat daya itu menjadi bentuk kemandirian
pemerintah tirai bambu atas ketergantungan terhadap satelit milik Amerika
Serikat yang menyediakan layanan navigasi dan positioning. China ingin melepas
ketergantungannya dari satelite AS, untuk mengembangkan sistemnya , meskipun
begitu China juga melakukan koordinasi frekuensi bilateral dengan Eropa (GALILEO),
AS (GPS), Rusia (Glonass).[3]
Satelit China bertujuan untuk menyediakan
navigasi, waktu, dan layanan pesan singkat di wilayah Asia-Pasifik sebelum 2012
dan akan mampu menawarkan navigasi global pada 2020.
Sistem satelit navigasi merupakan infrastruktur
bangunan angkasa yang sangat penting, dimana dapat memperluas rentang aktifitas
manusia dan mengembangkan kemampuan bersosialisasi mereka. Satelit navigasi
membawa perubahan dalam dunia politik, ekonomi, militer, teknologi dan budaya.
Dengan sejarah yang panjang dan kebudayaan yang indah, China merupakan salah
satu negara yang penting dalam perkembangan peradaban awal manusia. Di masa
kuno, rakyat China menggunakan konstelasi rasi bintang biduk (Big Dipper) dalam
penentuan arah. Mereka juga yang pertama kali menemukan alat navigasi pertama
di dunia, yaitu kompas kuno (Sinan), yang mana kompas kuno itu lah yang memberi
kontribusi sangat besar dalam perkembangan peradaban dunia. Dalam
peradaban modern, sistem satelit navigasi COMPASS buatan mereka, akan menjadi
kontribusi lainnya bagi umat manusia (CSNO, 2011).
Beidou (COMPASS) Satellite Navigation System
adalah sebuah proyek yang dikembangkan oleh China dalam rangka membuat sistem
satelit navigasi yang independent, tidak tergantung sistem negara
lainnya. Nama dari sistem ini diambil dari rasi bintang biduk (Big Dipper)
dimana dalam bahasa China disebut Beidou. Konstelasi rasi bintang biduk atau
Big Dipper.
Secara harfiah nama itu berarti Biduk Utara atau
Northern Dipper, nama yang diberikan para astronom untuk 7 bintang paling
terang dalam konstelasi Ursa Major atau “The Great Bear”. Sejarahnya, susunan
bintang ini lah yang digunakan para astronom dalam penentuan lokasi arah
bintang utara kutub. Dengan demikian, Beidou juga merupakan
sebuah metafora tujuan sistem satelit navigasi.
Sejak secara resmi melayani pengguna pada tahun
2003, sistem satelit navigasi COMPASS telah banyak digunakan dalam berbagai
bidang khususnya oleh pemerintah dan masyarakat China. Selain itu sistem
COMPASS juga penting dalam hal navigasi, penentuan waktu, dan komunikasi,
khususnya ketika sistem komunikasi terrestrial tidak bekerja.
Menurut China National Administration of GNSS
and Applications (CNAGA), pengguna Sistem COMPASS meningkat dari tahun ke tahun
(Gambar 1), hal ini menunjukkan betapa tingginya antusiasme konsumen
terhadap sistem ini.
Gambar 1 Grafik peningkatan pengguna sistem
COMPASS

Sumber data: CNAGA, 2009
Melalui pembangunan sistem Beidou yang
terintegrasi, China berharap tidak tergantung lagi kebutuhan satelitenya dari
negara lain khususnya Amerika Serikat.
[1] Martin Jacques, 2011. When China Rules The World
(Ketika Cina Menguasai Dunia), Kebangkitan Dunia Timur dan Akhir Dunia Barat.
Penerbit PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta., hal 478
[2] Jakondar
Bakara, Perkembangan satelit Navigasi Global dan Aplikasinya, vol.12 , no.2
,Juni 2011, Peneliti Bidang Kedirgantaraan Nasional, LAPAN , hal.38-37
[3] Fandi
Firsta Adilla Tamsin, 15108060, 2012, Sistem Satelite Navigasi Compass, Program
Study Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung